Selasa, 22 November 2016

NGABEN PADA ERA GLOBALISASI



TUGAS MATA KULIAH METODOLOGI PENELITIAN II

NGABEN PADA ERA GLOBALISASI










Oleh :
I KETUT PUTU SUARDANA
NIM. 141 211 10













PROGRAM PASCA SARJANA ILMU KOMUNIKASI HINDU
SEKOLAH TINGGI AGAMA HINDU NEGERI
GDE PUDJA MATARAM
2015

NGABEN PADA ERA GLOBALISASI

A.    Latar Belakang
Hindu merupakan salah satu agama tertua di dunia yang bersifat sangat universal. Dalam melakukan praktek keagamaan, Agama Hindu sangat pleksibel. Salah satu contoh praktek keagamaan dalam Hindu adalah dengan terlaksananya upacara ngaben secara turun temurun di Indonesia, di Bali dan Lombok khususnya.
Ngaben merupakan salah satu upacara yang dilakukan oleh Umat Hindu  di Bali dan Lombok. Upacara ini tergolong dalam upacara Pitra Yadnya (upacara yang ditunjukkan kepada Leluhur). Ngaben secara etimologis berasal dari kata api yang mendapat awalan nga, dan akhiran an, sehingga menjadi ngapian, yang disandikan menjadi ngapen yang lama kelamaan terjadi pergeseran kata menjadi ngaben. Versi lain mengatakan bahwa ngaben berasal dari kata beya yang artinya bekal, sehingga ngaben juga berarti upacara memberi bekal kepada Leluhur untuk perjalannya ke Sunia Loka.
Upacara Ngaben selalu melibatkan api, api yang digunakan ada dua macam, yaitu berupa api konkret dan api abstrak. Api konkrit adalah api yang terlihat dan dirasakan secar nyata oleh panca indra manusia sedangkan api abstrak adalah api yang berasal dari Puja Mantra Pendeta yang memimpin upacara.
Ngaben yang merupakan upacara kremasi atau pembakaran jenazah dalam Hindu di Indonesia adalah salah satu upacara atau ritual yang dilakukan untuk mengirim jenazah pada kehidupan mendatang.
Dalam ajaran agama Hindu, jasad manusia terdiri dari badan halus (roh atau atma) dan badan kasar (fisik). Badan kasar dibentuk oleh lima unsur yang dikenal dengan Panca Maha Bhuta. Kelima unsur ini terdiri dari pertiwi (tanah), teja (api), apah (air), bayu (angin), dan akasa (ruang hampa). Lima unsur ini menyatu membentuk fisik dan kemudian digerakkan oleh roh. Jika seseorang meninggal, yang mati sebenarnya hanya jasad kasarnya saja sedangkan rohnya tidak. Oleh karena itu, untuk menyucikan roh tersebut, perlu dilakukan upacara Ngaben untuk memisahkan roh dengan jasad kasarnya. Selain itu dalam kepercayaan Hindu, Dewa Brahma atau dewa pencipta dikenal sebagai dewa api. Oleh karena itu, upacara ini juga bisa dianggap sebagai upaya untuk membakar kotoran yang berupa jasad kasar yang masih melekat pada roh dan mengembalikan roh pada Sang Pencipta.

B.     Rangkaian Upacara Ngaben
Dalam prakteknya, upacara ngaben dilaksanakan dengan rangkaian sebagai berikut :
1.      Ngulapin adalah upacara untuk memanggil Sang Atma. Upacara ini juga dilaksanakan apabila yang bersangkutan meninggal di luar rumah yang bersangkutan misalnya di rumah sakit dan lain sebagainya.
2.      Nyiramang adalah Upacara memandikan dan membersihkan jenazah yang biasa dilakukan di halaman rumah keluarga yang bersangkutan. Prosesi ini juga disertai dengan pemberian simbol-simbol seperti bunga melati di rongga hidung, belahan kaca di atas mata, daun intaran di alis dan perlengkapan lainnya dengan tujuan mengembalikan kembali fungsi-fungsi dari bagian tubuh yang tidak digunakan ke asalnya serta apabila roh mendiang mengalami reinkarnasi kembali agar dianugrahi badan yang lengkap (tidak cacat).
3.      Ngaskara adalah upacara yang bermakna sebagai penyucian roh mendiang. Penyucian ini dilakukan dengan tujuan agar roh yang bersangkutan dapat bersatu dengan Tuhan dan bisa menjadi pembimbing kerabatnya yang masih hidup di dunia.
4.      Mameras berasal dari kata peras yang artinya berhasil, sukses atau selesai. Upacara ini dilaksanakan apabila mendiang sudah memiliki cucu, karena menurut keyakinan cucu tersebutlah yang akan menuntun jalannya mendiang melalui doa dan karma baik yang mereka lakukan.
5.      Papegatan  bermakna untuk memutuskan hubungan duniawi dan cinta dari kerabat mendiang, sebab kedua hal tersebut akan menghalangi perjalan sang roh menuju Tuhan.
6.      Ngeseng adalah upacara pembakaran jenazah. Jenazah dibaringkan di tempat yang telah disediakan, disertai sesaji dan banten dengan makna filosofis sendiri, kemudian diperciki oleh pendeta yang memimpin upacara dengan Tirta Pangentas yang bertindak sebagai api abstrak diiringi dengan Puja Mantra dari pendeta.
7.      Nganyud bermakna sebagai ritual untuk menghanyutkan segala kekotoran yang masih tertinggal dalam roh mendiang dengan simbolisasi berupa menghanyutkan abu jenazah. Upacara ini biasanya dilaksakan di laut atau sungai.

C.    Ngaben Pada Era Globalisasi
Hindu merupakan agama yang memiliki potensi memelihara alam dan seni budaya yang dapat diandalkan di Indonesia. Perkembangan pola pemikiran manusia khususnya di era modern sekarang ini bagaikan pisau bermata dua yang  memiliki dampak  negatif dan  positif yang mesti difilter oleh masyarakat Hindu supaya dapat menunjang pemeliharaan dan perkembangan tradisi atau praktek keagamaan Hindu kearah yang positif.  
Perkembangan teknologi di bidang transportasi dan komunikasi yang memfasilitasi pertukaran budaya dan ekonomi internasional. Globalisasi membawa dampak yang sangat besar pada semua sektor kehidupan masyarakat Indonesia. Hal tersebut dapat kita lihat dari tingginya pergulatan antara nilai-nilai lokal dan global yang memasuki segenap sendi-sendi kehidupan masyarakat Indonesia. Pengaruh globalisasi tidak dapat ditolak karena perkembangan kebudayaan manusia akan berkembang seiring dengan perkembangan zaman.
Hindu menjadikan ajaran Catur Purusa Artha sebagai dasar dalam kehidupan beragama. Catur Purusa Artha artinya empat tujuan hidup manusia dalam upaya mencapai jagadhita dan moksa. Dharma yang artinya kebenaran merupakan landasan utama di dalam mencari artha dan pemenuhan kama             di dalam mencapai jagadhita dan moksa.
Seiring dengan perkembangan jaman, nilai-nilai yang terdapat didalam ajaran agama mulai berubah. Pada jaman era globalisasi masyarakat Hindu sudah mulai mengutamakan material di atas segalanya.
Hal ini lebih dipertegas lagi oleh Maryadi dalam Suliartawan (2014) dinyatakan bahwa kini masyarakat Indonesia telah mengalami transformasi budaya spiritual ke kebudaya material. Transformasi budaya spiritual ke dalam budaya material dapat kita amati dalam kehidupan masyarakat Bali di zaman modern yang sudah mulai mengutamakan Artha dan pemenuhan hasrat atau Kama dibandingkan menjalankan Dharma sebagaimana mestinya.
Sejalan dengan ini, Piliang dalam Suliartawan (2014) juga menyatakan bahwa didalam konsumsi yang dilandasi oleh nilai tanda dan citraan ketimbang nilai utilitas, logika yang mendasarinya bukan logika kebutuhan (need) melainkan logika hasrat (desire). Pemenuhan kama di dalam Gilles Deleuze dan Felix Guattari (Suliartawan, 2014) juga dinyatakan bahwa di dalam Anti-Oedipus (hasrat atau hawa nafsu) tidak akan pernah terpenuhi, oleh karena itu ia selalu diproduksi dalam bentuk yang lebih tinggi oleh apa yang disebut mesin hasrat (desiring machine).
Pada era globalisasi ini banyak masyarakat yang merubah pola hidup dari masyarakat agraris ke pariwisata demi mencari Artha yang lebih banyak untuk memenuhi kepuasan hasrat atau keinginan. Fenomena tersebut mengakibatkan adanya transformasi budaya dari masyarakat sosial religious ke masyarakat individualisme.
Seiring dengan perubahan pola hidup masyarakat tersebut, tata cara pelaksanaan upacara agama juga mulai mengalami transformasi salah satu contohnya adalah upacara ngaben, zaman dahulu melaksanakan ritual upacara ngaben semakin lama waktunya semakin baik karena hubungan kekerabatan antara individu yang satu dengan yang lainnya semakin berarti. Pada jaman itu membuat sarana upakara dikerjakan oleh masyarakat secara bersama-sama dengan system gotong royong (ngoopin) dan proses pelaksanaan upacara ngaben juga memerlukan waktu yang sangat lama, biasanya disertai dengan acara makan-makan sehingga memerlukan biaya yang cukup banyak, tenaga yang cukup besar dan waktu yang diperlukan juga relatif lama. Namun sekarang dalam masyarakat Hindu di Indonesia pada umumnya telah terjadi perubahan pola pelaksanaan upacara ngaben dengan membeli atau memesan sarana upacara pada Griya karena masyarakat menginginkan yang serba praktis atau simple.
Masyarakat cukup menyerahkan uang dan banten lengkap dengan yang muput telah disiapkan oleh Griya tersebut. Meskipun memakan waktu yang relatif singkat, namun pelaksanaan upacara ngaben pada zaman sekarang lebih bersifat hiperealitas yadnya yaitu pelaksanaan yadnya yang melampui hakikat atau esensi dari upacara tersebut sehingga lebih terkesan bersifat Rajasika (jor-joran)
Pelaksanaan upacara agama yang bersifat rajasika ( jor-joran), yang sangat luar biasa beratnya  seperti sekarang ini, yang menguras sebagian besar uang dan tenaga.  Apabila budaya seperti ini terus dipertahankan maka masyarakat Hindu akan  tertinggal dan selalu menjadi budak bagi dirinya sendiri. Namun, apabila masyarakat Hindu mau mengadakan transformasi secara berkesinambungan untuk menggali pola pelaksanaa upacara Agama yang ideal khususnya upacara ngaben maka nasib Agama Hindu tidak akan sengsara.
Upacara ngaben pada era globalisasi hendaknya berbasis tattwaisme dan esensialisme sehingga didalam prosesi upacara ngaben tersebut memerlukan waktu yang cukup singkat, tenaga dan biaya yang relatif sedikit dengan tidak mengurangi hakikat dari upacara ngaben tersebut.
                                                                                   
D.    Penutup
Upacara ngaben kini lebih didominasi oleh nafsu untuk menunjukkan kemewahan dan kepraktis pelaksanaannya tanpa mementingkan tatwa. Oleh karena itulah hendaknya di era globalisasi ini hendaknya upacara keagamaan Hindu khususnya ngaben harus memperhtikan nilai yang terkandung dalam tatwa atau tatwaisme dan mementingkan esensi di balik upacara tersebut.

E.     Daftar Rujukan
Sudiartawan, I Gede. 2014. Artikel (Transformasi  Upacara Ngaben Berbasis Tattwaisme Dan Esensialisme Studi Pendidikan dalam Pelaksanaan Ngaben Massal Di Desa Sawan Kecamatan Sawan Kabupaten Buleleng).
Surayin, Ida Ayu Putu. 2010. Ngaben Khusus Pranawa. Surabaya : Paramita.
Wikarman, I Nyoman Singin. 2002. Ngaben (Upacara dari Tingkatan Sederhana Sampai Utama). Surabaya : Paramita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar