Selasa, 22 November 2016

TUGAS MATA KULIAH SOSIOLOGI KOMUNIKASI TANTANGAN ILMU KOMUNIKASI PADA ERA GLOBALISASI



TUGAS MATA KULIAH SOSIOLOGI KOMUNIKASI

TANTANGAN ILMU KOMUNIKASI PADA ERA GLOBALISASI










Oleh :
I KETUT PUTU SUARDANA
NIM. 141 211 10
e-mail : ikp31_suardana@yahoo.com











PROGRAM PASCA SARJANA ILMU KOMUNIKASI HINDU
SEKOLAH TINGGI AGAMA HINDU NEGERI
GDE PUDJA MATARAM
2015
KATA PENGANTAR

Om Swastyastu,
Puji syukur penulis panjatkan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, Tuhan Yang Maha Esa karena atas asungkerta dan waranugraha-Nya serta   kuasa-Nya Tugas Mata Kuliah Sosiologi Komunikasi  dengan judul Tantangan Ilmu Komunikasi pada Era Globalisasi ini dapat di selesaikan tepat pada waktunya.
Pada kesempatan ini tidak lupa kami sampaikan terima kasih kepada pihak yang telah memberi sumbangan pemikirannya kepada kami sehingga tulisan ini dapat terselesaikan. Sudah tentu tulisan yang kami buat ini jauh dari sempurna, untuk itu kami selaku penyusun tulisan ini mohon kritik dan saran dari pembaca secara konstruktif untuk lebih sempurnanya tulisan ini.
Sebagai akhir kata, semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi semua pihak.
Om Santih Santih Santih Om.
                                                 
 Mataram,  Februari 2015
                                                                             
                                                                 Penulis



DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR................................................................................       ii
DAFTAR ISI................................................................................................       iii
BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang...................................................................................       1
B.     Rumusan Masalah..............................................................................       2
C.     Tujuan Penulisan................................................................................       2
D.    Manfaat Penulisan.............................................................................       3
BAB II PEMBAHASAN
A.    Komunikasi........................................................................................       4
B.     Globalisasi..........................................................................................       4
1.      Pengertian Globalisasi..................................................................       4
2.      Ciri-Ciri globalisasi......................................................................       5
C.     Tantangan Komunikasi pada Era Globalisasi....................................       6
BAB III PENUTUP
A.    Simpulan............................................................................................       9
B.     Saran..................................................................................................       9
DAFTAR PUSTAKA


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Era globalisasi adalah sebuah era peradaban manusia modern bahkan post modern. Era ini ditandai dengan berkambangnya pola piker dan cara hidup manusia. Pola pikir manusia pada era ini tergolong pola pikir untuk maju serta pola untuk merubah pola dasar atau pola awal kearah perubahan yang sangat drastis. Hal yang tentunya akan sangat terpengaruh oleh era globalisasi adalah dunia komunikasi.
Perkembangan komunikasi dalam dunia sangatlah pesat pada era globalisasi. Sistem komunikasi manusia tentunya akan mengubah pola komunikasi masyarakat. Dipicu lagi dengan banyaknya model elektronik yang begitu pesat. Kemajuan elektronik tersebut bermunculan dengan adanya kemajuan pola pikir dan ilmu pengetahuan serta teknologi yang mampu dibuat dan dikuasai oleh manusia pada peradaban dunia saat ini.
Salah satu contoh perubahan pola komunikasi yang dapat kita liahat saat ini adalah dunia komunikasi massa. Sebelum terdapat media massa system komunikasi di negara kita menggunakan peralatan serta media yang sangat sederhana. Misalnya di Bali menggunakan kul-kul untuk mengumpulkan manusia atau masyarakat saat aka nada suatu kegiatan. Contoh lain misalnya, menggunakan selebaran kertas yang berisi berita kemudian disebarkan ke masyarakat. Hal inipun masih menggunakan tatap muka dimana sejumlah orang bertemu di satu tempat guna menyampaikan informasi.
Namun hal tersebut tidaklah berlangsung lama, pada tahun 1960-an muncul suatu alat elektronik yaitu TV. Komunikasi massapun berjalan dengan baik. Pesan-pesanpun tersalurkan dengan sangat baik tidak hanya melalui media cetak saja (Suroyya, 2012).
Hal di atas adalah bukti perkembangan komunikasi yang semakin pesat. Dengan bukti tersebut maka tantangan ilmu komunikasi yang notabene adalah ilmu yang fokus mengkaji tentang komunikasi tentu memiliki tantangan yang sangat berat. Oleh karena itulah maka pada tulisan ini, penulis ingin mengkaji tantangan ilmu komunikasi pada era globalisasi melalui sebuah makalah yang berjudul “Tantangan Ilmu Komunikasi pada Era Globalisasi”.

B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, dapat dirumuskan masalah yang akan dikaji dalam tulisan ini, yaitu:
1.      Apa saja tantangan ilmu komunikasi pada era globalisasi?
2.      Bagaimana upaya menghadapi tanntangan ilmu komunikasi pada era globalisasi?

C.    Tujuan Penulisan
Dari rumusan masalah tersebut dapat diketahui bahwa tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
1.      Menguraikan dan menjelaskan tantangan-tantangan ilmu komunikasi pada era globalisasi.
2.      Mengkaji upaya-upaya menghadapi tantangan ilmu komunikasi pada era globalisasi.
D.    Manfaat Penulisan
Dari tujuan di atas tentunya dapat diketahui manfaat penulisan karya imiah ini adalah sebagai berikut :
1.      Secara teoretis dapat dijadikan sumber bacaan dan referensi bagi pembaca maupun penulis karya ilmiah yang berkaitan dengan tantangan ilmu komunikasi pada era globalisasi.
2.      Secara prektis dapat dijadikan pedoman dalam mempertimbangkan kemajuan ilmu komunikasi berkaitan dengan upaya mengatasi tantangan-tantangan yang sudah, sedang maupun akan dihadapi oleh ilmu komunikasi terutama pada era globbalisasi.


BAB II
PENDAHULUAN

A.    Komunikasi
Berdasarkan etimologinya, kata komunikasi berasal dari dari bahasa Latin yaitu kata com berarti bersama-sama dan unio berarti persatuan. Dari etimologi tersebut Prof. Dr. Alo Liliweri, M.S. (2011:31) menjelaskan bahwa komunikasi adalah proses atau tindakan untuk mengalihkan pesan dari suatu sumber kepada penerima melalui saluran dalam situasi adanya gangguan dan interfrensi.
Dalam garis besar dapat disimpulkan bahwa komunikasi adalah penyampaian informasi dan pengertian dari seseorang kepada orang lain. Komunikasi akan berhasil apabaila antara komunikan dan komunikator saling memahami informasi yang diberikan.
Jadi berdasarkan definisi di atas, dapat kita pahami bahwa dalam komunikasi terdapat unsur-unsur komunikasi yang perlu kita pahami bersama diantaranya pengirim (komunikator), penerima (komunikan), pesan, media (saluran, chanel), gangguan dan efek.

B.     Globalisasi
1.      Pengertian Globalisasi
Globalisasi berasal dari kata global yang berari menyeluruh. Mendapat akhiran isasi yang berarti proses. Dari kata tersebut maka dalam Kamus Lengkap Bahasa Indonesia yang ditulis oleh Bambang Marhiyanto mengartikan bahwa globalisasi adalah proses masuk ke ruang lingkup dunia.
Globalisasi adalah sebuah istilah yang memiliki hubungan dengan peningkatan keterkaitan dan ketergantungan antar bangsa dan antar manusia di seluruh dunia melalui perdagangan, investasi, perjalanan budaya populer sehingga tidak ada batas antara satu negara dengan negara yang lain. Adapun pengertian lain mengenai globalisasi adalah suatu proses sosial, sejarah atau proses alamiah yang akan membawa seluruh bangsa dan adanya keterikatan antara satu bangsa yang satu dengan bangsa yang lain (Suroyya, 2008).
Jadi berdasarkan pemaknaan tersebut dapat diketahui bahwa globalisasi merupakan proses masuknya segala aspek kehidupan manusia menuju arah global atau dunia.
2.      Ciri-Ciri Globalisasi
Agar lebih mudah dalam pemahaman mengenai globalisasi maka di sini akan diuraikan juga mengenai ciri-ciri dari globalisasi menurut Suroyya yaitu:
a.       Terdapat perubahan dalam konsep ruang dan waktu seperti berkembang pesatnya tekhnologi seperti telepon genggam, satelit juga internet.
b.      Pasar dan produksi ekonomi di berbagai negara menjadi saling ketergantungan sebagai akibat perdagangan internasional.
c.       Peningkatan interaksi kultural melalui perkembangan media massa seperti TV, musik, serta berita yang bersifat internasional.
d.      Meningkatnya masalah bersama misalnya pada bidang lingkungan hidup, krisis multinasional dan juga inflasi regional.




C.     Tantangan Komunikasi pada Era Globalisasi
Adapun beberapa tantangan yang dihadapi oleh berbagai negara di penjuru dunia pada umumnya dan di Indonesia pada khususnya dalam kaitannya dengan komunikasi terletak pada 3 poin utama yaitu :
a.       Teknologi Pers
Pers nasional diwajibkan memiliki kemampuan khususnya dalam hal tekhnologi dimaksudkan agar tersampainya komunikasi ataupun pesan kepada masyarakat sedangkan di bidang jurnalistik berarti sejumlah tekhnik yang harus dilakukan dalam hal pencarian dan penulisan berita harus ditingkatkan baik dalam jumlah dan mutu, mereka juga harus berlomba-lomba membuat suatu komunikasi cetak maupun berupa elektronik.
Sistem hukum komunikasi massa dan kebijakan pemerintah di bidang media misalnya bisa menjadi lebih konservatif atau melawan arus. Hal ini tentu akan menyulitkan pekerjaan jurnalistik. Jurnalistik di Indonesia bisa terseret oleh dua macam arus kekuatan, yaitu di satu pihak terdapat tarikan arus modernisasi yang di bawah globalisasi. Sebagai akibatnya media ini khususnya televisi akan dijadikan alat ampuh oleh segelintir orang atau golongan untuk menanamkan atau sebaliknya akan merusak nilai-nilai moral untuk mempengaruhi atupun mengontrol pola pikir seseorang oleh mereka yang memiliki kekuasaan.
b.      Sosial dan Ekonomi
Teknologi modern telah mengakibatkan terciptanya komunikasi bebas lintas negara, benua dan mampu menerobos berbagai pelosok perkampungan dan area-area sempit lainnya layaknya kampung-kampung dan lainnya melalui sebuah media yang begitu ampuh yang berupa audio dan audio visual seperti radio, televisi, internet dan sebagainya. Fenomena modern inilah yang sangat populer dengan sebutan globalisasi.
Kemujuan tekhnologi tidak berarti juga kemajuan manusia biasa saja, tetapi kemajuan tekhnologi membuat sebagian manusia akan merasa asing dari dunianya sendiri (alienasi) karena berbagai penyebab seperti kemampuan yang berbeda di bidang ekonomi dan latar kebudayaan yang berbeda.
Selain itu berkembanganya tekhnologi modern juga berdampak pada bidang sosial-ekonomi, yang merupakan senjata ampuh dalam mengentaskan kemiskinan yang sedang melanda negara Indonesia.
Berdasarkan data yang dikutip dari Suroyya, Sekitar 40 juta orang hidup di bawah angka kemiskinan dan ≥ 80 juta jiwa mengalami pengangguran. Hal ini membuat Indonesia meraih peringkat atau urutan 110 dari 170 negara yang berada dalam taraf kemsikinan, melihat fenomena tersebut maka sangatlah dibutuhkan tekhnologi serta SDM yang memadai. Munculnya berbagai merek dan jenis barang-barang bertekhnologi mutakhir seperti internet yang dapat meringankan beban negara, yaitu hanya dengan mengakses salah satu bursa kerja atau lowongan kerja di salah satu situs di internet seseorang atau mungkin beberapa orang akan terselamatkan dari ganasnya pengangguran.Tidak sedikit dari warga kita yang bermalas-malasan bahkan pasrah dalam mengubah takdir hidup pada dirinya.
Berjuta- juta orang harus rela hidup dalam kemiskinan karena ketidaktahuan mereka “how to operate tevhnology”. Globaliasasi komunikasi terutama informatika menjadi alat vital yang begitu ampuh dalam mengentaskan kemiskinan, kebodohan serta meningkatkan kesejahteraan. Dalam era globalisasi setiap orang dituntut untuk mengatasi masalah yang begitu kompleks sebagai akibat dari perubahan global.
c.       Keagamaan (Religious)
Berdasarkan hasil studi beberapa pakar ahli komunikasi yang terpaparkan oleh Burhan Bungin dalam bukunya berjudul Sosiologi Komunikasi tahun 2006 menguak dampak sosio-psikologis antara menonton televisi dengan sikap agresif, sikap anti sosial, sikap aktifitas santai, kecenderungan gaya hidup, sikap rasial, kecenderungan atas prefensi seksual, kesadaran akan daya tarik seksual, stereotype peran seksual, bunuh diri dan identifikasi diri dengan karakter- karakter yang terdapat dalam televisi. Akan tetapi perlu dicatat bahwa sejak munculnya era televisi yang dibarengi dengan timbulnya berpuluh-puluh channel yang menawarkan acara-acara yang menarik yang membuat kita notabenenya sebagai umat Hindu menjadi lupa akan tugas kita, kita hanya berperan sebagai konsumennya saja sedang orang baratlah yang memegang kendali akan komunikasi di seluruh dunia.


BAB III
PENUTUP

A.    Simpulan
Komunikasi adalah penyampaian informasi dan pengertian dari seseorang kepada orang lain. Komunikasi akan berhasil apabaila antara komunikan dan komunikator saling memahami informasi yang diberikan. Dalam komunikasi terdapat unsur-unsur komunikasi yang perlu kita pahami bersama diantaranya pengirim (komunikator), penerima (komunikan), pesan, media (saluran, chanel), gangguan dan efek.
Globalisasi adalah suatu proses sosial, sejarah atau proses alamiah yang akan membawa seluruh bangsa dan adanya keterikatan antara satu bangsa yang satu dengan bangsa yang lain. Globalisasi merupakan proses masuknya segala aspek kehidupan manusia menuju arah global atau dunia.
Ada beberapa tantangan yang dihadapi oleh berbagai negara di penjuru dunia pada umumnya dan di Indonesia pada khususnya dalam kaitannya dengan komunikasi terletak pada 3 poin utama yaitu teknologi pers, sosial ekonomi dan keagamaan.

B.     Saran
Dari pemaparan di atas dapat disarankan kepada pembaca untuk lebih bersiap dan harus mampu bersaing dalam menghadapi era globalisasi yang saat ini didominasi oleh pengaruh barat.


DAFTAR PUSTAKA

Arifin, Anwar. 2013. Ilmu Komunikasi. Jakarta : Raja Grafindo Persada.

Bungin, Burhan. 2006. Sosiologi Komunikasi. Jakarta : Kencana.

Cangara, Hafied. 2012. Pengantar ilmu Komunikasi. Jakarta : Raja Grafindo Persada.

Liliweri, Alo. 2011. Komunikasi Serba Ada Serba Makna. Jakarta : Kencana.

Marhyanto, Bambang.                        . Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. Victory.

Rahmat, Jalaludin. 2002. Psikologi Komunikasi. Bandung : Remaja Rosdakarya.

Surroya, Dhama. 2008. Tantangan komunikasi di era globalisasi. Dhamamanis.blogspot.com.

Widjaja. 2002. Komunikasi. Jakarta : Bumi Aksara.

NGABEN PADA ERA GLOBALISASI



TUGAS MATA KULIAH METODOLOGI PENELITIAN II

NGABEN PADA ERA GLOBALISASI










Oleh :
I KETUT PUTU SUARDANA
NIM. 141 211 10













PROGRAM PASCA SARJANA ILMU KOMUNIKASI HINDU
SEKOLAH TINGGI AGAMA HINDU NEGERI
GDE PUDJA MATARAM
2015

NGABEN PADA ERA GLOBALISASI

A.    Latar Belakang
Hindu merupakan salah satu agama tertua di dunia yang bersifat sangat universal. Dalam melakukan praktek keagamaan, Agama Hindu sangat pleksibel. Salah satu contoh praktek keagamaan dalam Hindu adalah dengan terlaksananya upacara ngaben secara turun temurun di Indonesia, di Bali dan Lombok khususnya.
Ngaben merupakan salah satu upacara yang dilakukan oleh Umat Hindu  di Bali dan Lombok. Upacara ini tergolong dalam upacara Pitra Yadnya (upacara yang ditunjukkan kepada Leluhur). Ngaben secara etimologis berasal dari kata api yang mendapat awalan nga, dan akhiran an, sehingga menjadi ngapian, yang disandikan menjadi ngapen yang lama kelamaan terjadi pergeseran kata menjadi ngaben. Versi lain mengatakan bahwa ngaben berasal dari kata beya yang artinya bekal, sehingga ngaben juga berarti upacara memberi bekal kepada Leluhur untuk perjalannya ke Sunia Loka.
Upacara Ngaben selalu melibatkan api, api yang digunakan ada dua macam, yaitu berupa api konkret dan api abstrak. Api konkrit adalah api yang terlihat dan dirasakan secar nyata oleh panca indra manusia sedangkan api abstrak adalah api yang berasal dari Puja Mantra Pendeta yang memimpin upacara.
Ngaben yang merupakan upacara kremasi atau pembakaran jenazah dalam Hindu di Indonesia adalah salah satu upacara atau ritual yang dilakukan untuk mengirim jenazah pada kehidupan mendatang.
Dalam ajaran agama Hindu, jasad manusia terdiri dari badan halus (roh atau atma) dan badan kasar (fisik). Badan kasar dibentuk oleh lima unsur yang dikenal dengan Panca Maha Bhuta. Kelima unsur ini terdiri dari pertiwi (tanah), teja (api), apah (air), bayu (angin), dan akasa (ruang hampa). Lima unsur ini menyatu membentuk fisik dan kemudian digerakkan oleh roh. Jika seseorang meninggal, yang mati sebenarnya hanya jasad kasarnya saja sedangkan rohnya tidak. Oleh karena itu, untuk menyucikan roh tersebut, perlu dilakukan upacara Ngaben untuk memisahkan roh dengan jasad kasarnya. Selain itu dalam kepercayaan Hindu, Dewa Brahma atau dewa pencipta dikenal sebagai dewa api. Oleh karena itu, upacara ini juga bisa dianggap sebagai upaya untuk membakar kotoran yang berupa jasad kasar yang masih melekat pada roh dan mengembalikan roh pada Sang Pencipta.

B.     Rangkaian Upacara Ngaben
Dalam prakteknya, upacara ngaben dilaksanakan dengan rangkaian sebagai berikut :
1.      Ngulapin adalah upacara untuk memanggil Sang Atma. Upacara ini juga dilaksanakan apabila yang bersangkutan meninggal di luar rumah yang bersangkutan misalnya di rumah sakit dan lain sebagainya.
2.      Nyiramang adalah Upacara memandikan dan membersihkan jenazah yang biasa dilakukan di halaman rumah keluarga yang bersangkutan. Prosesi ini juga disertai dengan pemberian simbol-simbol seperti bunga melati di rongga hidung, belahan kaca di atas mata, daun intaran di alis dan perlengkapan lainnya dengan tujuan mengembalikan kembali fungsi-fungsi dari bagian tubuh yang tidak digunakan ke asalnya serta apabila roh mendiang mengalami reinkarnasi kembali agar dianugrahi badan yang lengkap (tidak cacat).
3.      Ngaskara adalah upacara yang bermakna sebagai penyucian roh mendiang. Penyucian ini dilakukan dengan tujuan agar roh yang bersangkutan dapat bersatu dengan Tuhan dan bisa menjadi pembimbing kerabatnya yang masih hidup di dunia.
4.      Mameras berasal dari kata peras yang artinya berhasil, sukses atau selesai. Upacara ini dilaksanakan apabila mendiang sudah memiliki cucu, karena menurut keyakinan cucu tersebutlah yang akan menuntun jalannya mendiang melalui doa dan karma baik yang mereka lakukan.
5.      Papegatan  bermakna untuk memutuskan hubungan duniawi dan cinta dari kerabat mendiang, sebab kedua hal tersebut akan menghalangi perjalan sang roh menuju Tuhan.
6.      Ngeseng adalah upacara pembakaran jenazah. Jenazah dibaringkan di tempat yang telah disediakan, disertai sesaji dan banten dengan makna filosofis sendiri, kemudian diperciki oleh pendeta yang memimpin upacara dengan Tirta Pangentas yang bertindak sebagai api abstrak diiringi dengan Puja Mantra dari pendeta.
7.      Nganyud bermakna sebagai ritual untuk menghanyutkan segala kekotoran yang masih tertinggal dalam roh mendiang dengan simbolisasi berupa menghanyutkan abu jenazah. Upacara ini biasanya dilaksakan di laut atau sungai.

C.    Ngaben Pada Era Globalisasi
Hindu merupakan agama yang memiliki potensi memelihara alam dan seni budaya yang dapat diandalkan di Indonesia. Perkembangan pola pemikiran manusia khususnya di era modern sekarang ini bagaikan pisau bermata dua yang  memiliki dampak  negatif dan  positif yang mesti difilter oleh masyarakat Hindu supaya dapat menunjang pemeliharaan dan perkembangan tradisi atau praktek keagamaan Hindu kearah yang positif.  
Perkembangan teknologi di bidang transportasi dan komunikasi yang memfasilitasi pertukaran budaya dan ekonomi internasional. Globalisasi membawa dampak yang sangat besar pada semua sektor kehidupan masyarakat Indonesia. Hal tersebut dapat kita lihat dari tingginya pergulatan antara nilai-nilai lokal dan global yang memasuki segenap sendi-sendi kehidupan masyarakat Indonesia. Pengaruh globalisasi tidak dapat ditolak karena perkembangan kebudayaan manusia akan berkembang seiring dengan perkembangan zaman.
Hindu menjadikan ajaran Catur Purusa Artha sebagai dasar dalam kehidupan beragama. Catur Purusa Artha artinya empat tujuan hidup manusia dalam upaya mencapai jagadhita dan moksa. Dharma yang artinya kebenaran merupakan landasan utama di dalam mencari artha dan pemenuhan kama             di dalam mencapai jagadhita dan moksa.
Seiring dengan perkembangan jaman, nilai-nilai yang terdapat didalam ajaran agama mulai berubah. Pada jaman era globalisasi masyarakat Hindu sudah mulai mengutamakan material di atas segalanya.
Hal ini lebih dipertegas lagi oleh Maryadi dalam Suliartawan (2014) dinyatakan bahwa kini masyarakat Indonesia telah mengalami transformasi budaya spiritual ke kebudaya material. Transformasi budaya spiritual ke dalam budaya material dapat kita amati dalam kehidupan masyarakat Bali di zaman modern yang sudah mulai mengutamakan Artha dan pemenuhan hasrat atau Kama dibandingkan menjalankan Dharma sebagaimana mestinya.
Sejalan dengan ini, Piliang dalam Suliartawan (2014) juga menyatakan bahwa didalam konsumsi yang dilandasi oleh nilai tanda dan citraan ketimbang nilai utilitas, logika yang mendasarinya bukan logika kebutuhan (need) melainkan logika hasrat (desire). Pemenuhan kama di dalam Gilles Deleuze dan Felix Guattari (Suliartawan, 2014) juga dinyatakan bahwa di dalam Anti-Oedipus (hasrat atau hawa nafsu) tidak akan pernah terpenuhi, oleh karena itu ia selalu diproduksi dalam bentuk yang lebih tinggi oleh apa yang disebut mesin hasrat (desiring machine).
Pada era globalisasi ini banyak masyarakat yang merubah pola hidup dari masyarakat agraris ke pariwisata demi mencari Artha yang lebih banyak untuk memenuhi kepuasan hasrat atau keinginan. Fenomena tersebut mengakibatkan adanya transformasi budaya dari masyarakat sosial religious ke masyarakat individualisme.
Seiring dengan perubahan pola hidup masyarakat tersebut, tata cara pelaksanaan upacara agama juga mulai mengalami transformasi salah satu contohnya adalah upacara ngaben, zaman dahulu melaksanakan ritual upacara ngaben semakin lama waktunya semakin baik karena hubungan kekerabatan antara individu yang satu dengan yang lainnya semakin berarti. Pada jaman itu membuat sarana upakara dikerjakan oleh masyarakat secara bersama-sama dengan system gotong royong (ngoopin) dan proses pelaksanaan upacara ngaben juga memerlukan waktu yang sangat lama, biasanya disertai dengan acara makan-makan sehingga memerlukan biaya yang cukup banyak, tenaga yang cukup besar dan waktu yang diperlukan juga relatif lama. Namun sekarang dalam masyarakat Hindu di Indonesia pada umumnya telah terjadi perubahan pola pelaksanaan upacara ngaben dengan membeli atau memesan sarana upacara pada Griya karena masyarakat menginginkan yang serba praktis atau simple.
Masyarakat cukup menyerahkan uang dan banten lengkap dengan yang muput telah disiapkan oleh Griya tersebut. Meskipun memakan waktu yang relatif singkat, namun pelaksanaan upacara ngaben pada zaman sekarang lebih bersifat hiperealitas yadnya yaitu pelaksanaan yadnya yang melampui hakikat atau esensi dari upacara tersebut sehingga lebih terkesan bersifat Rajasika (jor-joran)
Pelaksanaan upacara agama yang bersifat rajasika ( jor-joran), yang sangat luar biasa beratnya  seperti sekarang ini, yang menguras sebagian besar uang dan tenaga.  Apabila budaya seperti ini terus dipertahankan maka masyarakat Hindu akan  tertinggal dan selalu menjadi budak bagi dirinya sendiri. Namun, apabila masyarakat Hindu mau mengadakan transformasi secara berkesinambungan untuk menggali pola pelaksanaa upacara Agama yang ideal khususnya upacara ngaben maka nasib Agama Hindu tidak akan sengsara.
Upacara ngaben pada era globalisasi hendaknya berbasis tattwaisme dan esensialisme sehingga didalam prosesi upacara ngaben tersebut memerlukan waktu yang cukup singkat, tenaga dan biaya yang relatif sedikit dengan tidak mengurangi hakikat dari upacara ngaben tersebut.
                                                                                   
D.    Penutup
Upacara ngaben kini lebih didominasi oleh nafsu untuk menunjukkan kemewahan dan kepraktis pelaksanaannya tanpa mementingkan tatwa. Oleh karena itulah hendaknya di era globalisasi ini hendaknya upacara keagamaan Hindu khususnya ngaben harus memperhtikan nilai yang terkandung dalam tatwa atau tatwaisme dan mementingkan esensi di balik upacara tersebut.

E.     Daftar Rujukan
Sudiartawan, I Gede. 2014. Artikel (Transformasi  Upacara Ngaben Berbasis Tattwaisme Dan Esensialisme Studi Pendidikan dalam Pelaksanaan Ngaben Massal Di Desa Sawan Kecamatan Sawan Kabupaten Buleleng).
Surayin, Ida Ayu Putu. 2010. Ngaben Khusus Pranawa. Surabaya : Paramita.
Wikarman, I Nyoman Singin. 2002. Ngaben (Upacara dari Tingkatan Sederhana Sampai Utama). Surabaya : Paramita.